produk Kulit John Anglo

Agus Nanang Ichtiar, Nikmati Geliat Bisnis Produk Kulit

Produk berbahan kulit asli memang terbilang mahal. Tapi bukan berarti produk ini tak diminati masyarakat. Buktinya, produk kulit masih terus diidolakan dan diburu oleh masyarakat. Salah satu yang menikmatinya Agus Nanang Ichtiar dengan brand produknya, John Anglo.

Agus Nanang Ichtiar sudah menggeluti bisnis fashion berbahan kulit ini sejak 2012 lalu. Dunia kulit bukanlah hal yang baru baginya. Sebab sebelumnya dia bekerja di salah satu perusahaan asing yang memproduksi lembaran-lembaran kulit.

Keinginannya untuk menjadi seorang pengusaha menggerakkan Agus keluar dari pekerjaan lamanya. Dia membuka bisnis produk kulit dengan brand John Aanglo. ”Sudah menjadi cita-cita saya untuk memiliki bisnis sendiri dan yang paling saya kuasai ilmunya adalah dunia kulit ini. Kebetulan saya juga menyukai desain, jadi kenapa tidak membuat produk kulit saja,” terangnya saat ditemui Surabaya Family di pameran Majapahit Travel Fair 2017 lalu.

Agus mengaku tidak memiliki basik keilmuan di dunia desain. Modalnya hanya pengalaman dan insting saja. Design yang dibuat oleh lulusan Sarjana Teknik Mesin ini, diperoleh dari hasil pengamatannya.”Ilmu desain yang saya anut adalah ATM. Amati, Tiru, dan modifikasi. Bukan menjiplak, tapi mengamati apa yang sedang berkembang lalu membuat desain sendiri dengan modifikasi sesuai dengan karakter,” jelasnya.

Agus menuturkan, desain produk yang dibuatnya memiliki karakter vintage. Menurutnya karakter itu long lasting, sehingga sampai kapanpun tetap disukai. Produk kulit yang dijual Agus berupa tas, ikat pinggang, jaket, topi, sepatu, sandal, dompet, gantungan kunci, tenpat pensil, dan masih banyak lagi. Harganya mulai Rp 30 ribu an hingga Rp 10 juta an.

Salah satu keunggulan yang dimiliki John Anglo adalah bisa menerima pemesanan produk dengan custom desain apapun. Agus mengaku seringkali menerima pesanan cinderamata dari perusahaan besar seperti PT Pelindo Tiga, BRI, dan Semen Gresik. Selain pasar domestik, Agus juga telah mengekspor produknya ke luar negeri. Misalkan saja pengiriman pesanan sandal ke Oman.

Selain menjual produk, kelebihan lain yang ditawarkan Agus adalah layanan after sales alias reparasi. Selain memproduksi produk baru, Agus juga menerima perbaikan produk fashion kulit. Misalkan saja bagi yang produk kulitnya sudah berjamur dan warnanya pudar bisa diperbarui oleh Agus. Dia mengaku, layanan ini tidak ditawarkan oleh produsen lainnya.

Cara Membedakan Kulit Asli dan Sintetis

Selain bertujuan untuk meraup untung di dunia bisnis produk kulit, Agus juga memiliki misi lain. Agus ingin memberi edukasi ke masyarakat bagaimana cara membedakan produk yang memakai kulit asli dan kulit sintetis.

Agus menilai, banyak masyarakat yang menyukai produk kulit tapi sayangnya banyak juga yang belum bisa membedakan mana yang asli dan sintetis. Seringkali yang selama ini terjadi, masyarakat rela merogoh kocek hingga puluhan juta rupiah untuk produk kulit imitasi yang dikira asli.

”Mereka belanja di brand-brand ternama dan mengira produk yang dibeli berbahan kulit asli. Tapi setelah dicek ternyata palsu. Produk yang dibeli lama-lama terkelupas. Jika komplain ke toko tempat membeli pasti akan dijawab, terkelupas karena lembab. Padahal kalau kulit asli tidak akan terkelupas,” jelasnya.

Agar tidak tertipu, Agus memberi tips membedakan produk kulit asli dan sintetis. Pertama yang paling mudah periksa labelnya. Produk yang terbuat dari kulit sintetis biasanya tidak terlalu gamblang menjelakan bahan pembuatnya. Biasanya menggunakan istilah manmade materials, fabric materials dan berbagai istilah lainnya

Kedua, periksa tepian produk. Jika diperhatikan dengan seksama produk yang terbuat dari kulit sintetis akan tampak lebih sempurna pada tepi atau sisi sisi produk  dan akan terasa seperi busa atau plastik. Sedangkan kulit asli cenderung lebih kasar.

Ketiga, periksa pori-pori bahan kulitnya. Ketika membeli produk kulit periksa dengan seksama pori-pori pada bahannya. Pori-poro pada kulit sintetis tampak lebih rapi dengan bentuk dan jarak yang lebih konsisten. Sementara yang asli lebih tidak beraturan

Keempat, sentuh dan rasakan bahan kulitnya. Kulit asli bisa terasa kasar bisa juga terasa halus tergantung pada kualitasnya. Namun jika bahan kulitnya terasa terlalu halus dan terasa seperti plastik maka kemungkinan besar itu imitasi. Kulit sintetis cenderung lebih melar jika direnggangkan. Untuk lebih familiar dengan tekstur kulit asli, cobalah ke toko produk kulit yang sudah memiliki reputasi keasliannya, lalu bandingkan saat menyetuh kulit asli dengan kulit sintetis.

Kelima, cium aromanya. Aroma kulit asli tidak akan dapat ditiru oleh kulit sintetis. Anda dapat membedakan dengan mencium aroma dari bahan kulit. Untuk menggunakan cara ini tentu harus bisa mengenal dan membedakan aroma kulit asli dengan sintetis terlebih dahulu.

”Intinya harus lebih teliti jangan kemakan brand dan memganggap harga mahal pasti berbahan kulit asli. Cintailah produk-produk lokal, karena kualitas produk kulit Indonesia tak kalah dengan yang impor,” celoteh Agus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *